Selasa, 16 September 2014

story of my life....

Cinta dan Benci
Hai. Nama gue Vanilla Adzqueela. Gua sekolah di Smpn Binaan Khusus Dumai. Gue bukan orang berada. Gue lahir dari keluarga sederhana yang meyakini adanya cinta disetiap dimensi ruang dan aliran waktu.  Besok ialah hari pertama gue masuk sekolah ketika liburan sekolah usai sudah. Perasaan rindu untuk berjumpa dengan teman itu pasti. Capek? Jangan ditanya lagi. Mungkin rasa letih ini yang terus menuntun gue untuk berjuang meraih mimpi gue. Gue udah gak sabar ketemu sama sahabat-sahabat gue, bercanda, ketawa-ketiwi, ngakak gak karuan. Rindu semuanya. Mungkin esok hari akan terjawablah semua rasa itu.
Pagi hari. Seperti biasa, gue mulai menjalankan aktifitas gue. Mandi, sholat subuh, sarapan, dan segera berangkat sekolah. Gue buru-buru memasang sepatu dan pamitan dengan nyokap. Gue biasa pergi-pulang sekolah dengan naik angkot. Kebiasaan inilah yang membuat gua disiplin. Mungkin dari sebagian kalian ada yang diantar dengan bokap-nyokap atau naik kendaraan pribadi. Bersyukurlah atas semua itu. Asal kalian tau aja, gue setiap pagi udah kayak orang bego. Nunggu angkot ditepi jalanan. Banyak sih anak binsus yang pake kendaraan pribadi mereka lalu lalang, atau siswa binsus yang pergi dengan diantar orangtua mereka atau supir pribadi mereka. Tapi gue gak pernah iri liat merekaJ. Ketika angkot udah datang, gue pun naik dan angkotpun melaju menuju sekolah gue.
Tepat pukul 06.30 waktu Indonesia bagian jam gue, gue udah sampai di gerbang sekolah. dengan mengucapkan basmallah, gue pun melangkah menuju ruang kelas gue. Yap. 91. Kelas yang selama ± 2,5 tahun temanin hari-hari gue lengkap dengan manusia-manusia sebaya gue didalamnya. Orang yang pertama gue jumpa didalam kelas gue yaitu Ami. Sahabat gue yang udah gue anggap kayak kakak bahkan nyokap kedua gue dan orang yang selalu minta oleh-oleh setiap waktu (¬_¬"). Gue yakin hari ini bakal seru banget. Pasti kelas ini udah kayak pasar lagi. Maklum, hari pertama masuk sekolah. Setelah beberapa menit, teman-teman gue yang lain mulai berdatangan dan party ngoceh tentang pengalaman liburan dari masing-masing sahabat gue pun dimulai. Diantara cerita-cerita mereka, terdengar gelak tawa  yang membuat teman-teman gue yang lain mulai mengerubuni mereka. udah kayak gula dengan semut aja ya.
 Hari pun berlalu dengan cepat. Hari ini hari sabtu. Pagi harinya gue menjalani aktifitas biasa. Ketika tiba disekolah, gue segera masuk kelas , meletakkan tas dan segera ngumpul dengan sahabat-sahabat gue di bangku luar kelas. Baru aja gue duduk, eh dari kejauhan terdengar suara yang menyuruh kami para manusia binsus berbaris di lapangan untuk mengikuti senam. Suara siapa lagi cobak? Kalian pasti tahulah. Gak perlu gue sebutin. Kalau lu gak tau emang parah banget dah. Gue dan teman-teman gue pun segera berbaris dilapangan dan mengambil posisinya masing-masing. Ketika selesai senam gue dan teman gue Tonang, segera melangkah menuju kantin. Biasa, untuk menghemat pengeluaran, gue cuman jajan 2 buah bakwan lengkap dengan saus dan plastic pembungkus bakwan gue. Hemat dan cukup mengenyangkan.

Kami pun segera duduk dibangku luar kelas sambil menikmati makanan kami masing-masing. Bel berbunyi tanda waktu istirahat kami sudah habis. Gue dan Tonang pun masuk ke kelas. Nah, sahabat gue yang satu ini terkenal dengan ganasnya. Kalau dia udah marah ataupun mengamuk mungkin akan terjadi gempa bumi dadakan. Kalau misalnya dia kelahi dengan orang lain, alternatifnya dua, kalo gak wakasis / rumah sakit. Gile ye? Tapi sebenernya dia baik & care kok sama gueJ, tapi gue gatau kalo sama yang lain ya. setelah beberapa jam berlalu, waktunya pengembangan diri sekarang. Gue dan Tonang memilih buat main basket. Awalnya sih gue gak terlalu suka dengan yang namanya basket itu. Tapi setelah gue cobak buat maininnya, ternyata basket itu menyenangkan. Lebih menyenangkan dari yang gua bayangkan. Gue pun segera meminjam bola dengan Pak Afrizal, guru olahraga gue. Guru gue yang satu ini emang beda banget pokoknya dari guru yang lain, tapi masih sama-sama manusia kok. Beda maksudnya disini yaitu pak Af, begitu panggilannya ini mampu memberi nasihat yang bermanfaat banget bagi gue dan teman-teman semua. Mulai dari tutur katanya, pemikiran yang jauh lebih genius daripada makhluk kayak gue. Mungkin gue rasa IQ nya melebihi Albert Einstein atau Issac Newton, sang penemu gravitasi bumi. Gue sampai berdecak kagum dengan setiap ucapan yang dilontarkannya. Banyak ilmu-ilmu diluar olahraga, yang telah ia berikan, sehingga kini wawasan gue mulai berkembang.
Kembali lagi ke cerita gue, pas gue mau ambil bola basket yang telah dipompa oleh pak Af tadi, tiba-tiba bola basket gue tadi direbut oleh seekor eh maksud gue seorang cowok usil. Sebut saja namanya Raffa. Ya,pemirsa, nampaknya sudah mulai terlihat benang merah dari cerita ini. Gue pun berlari mengejar bola basket gue tadi. Tapi tidak berhasil. Emang dasar gue ini pendek atau gak pandai mengejar bola basket atau dianya yang pintar bermain bola basket, entahlah, nanti kita tanya sama Ki Joko Bodo. Gue pun mulai merengek bak anak bayi yang haus meminta susu. Akhirnya gue pun mendapatkan kembali bola basket gue. Dilapangan itu, cuman ada gue, Tonang dan Raffa dan temannya Raffa yaitu Rangga. Gue main bola basket itu sendirian. Belajar nge-shoot dan dribble. Ketika gue ingin nge-shoot, tiba-tiba saja datang cowok usil yang bernama Raffa itu. Nyaris saja bola gue diambil sama dia lagi.
Lalu, ia meminta bola basket gue, karena kasihan, yaudah gue pinjamin aja ke dia. Ya,itung-itung berdarmalah J. Gue takjub liat permainan basket dia. Jarang-jarang seorang Vanilla Adzqueela memuji seseorang yang awal dianggapnya usil itu. Tapi gimanapun, gue tetap kesel sama dia. Cowok usil yang kerjaannya tidak lebih menganggu manusia. Gue pun memanggil Tonang dan kamipun istirahat di tonggak ring basket, Tonang bersandar di tonggak ring basket dan gue tidur di dekat Tonang sambil menatap langit yang cerah siang itu dan tiba-tiba saja Raffa dan Ranggapun istirahat di dekat kami. Hellow! Binsus ini luas keles. Kayak gak ada tempat lain aja.
Gue segera pindah dari sana, dan duduk dibawah pohon jambu kecil ditepi lapangan basket. Gue pun mengisyaratkan Tonang untuk segera kesini. Tonangpun segera berdiri dan menuju ketempat gue.
“Van, lu kenapa?cemberut aja.”
“bete’ gua tau gak!”
“bete kenapa? Karna dia?” Tonang mengerlingkan matanya kearah Raffa.
“hmmmm.”
“udah, jangan marah dong cipiitt. Tar lu jadi sukak sama dia wkwk.”
“heh apaan sih! Udah ah jangan ngaco deh Tonang.”
“biasanya kata orang sih, benci benci lama-lama jadi cinta lho.”
“kan masih kata orang-_- bukan kata gue.”
“iyadeh cipit.”
Gue pun mengajak Tonang kekelas karena sebentar lagi waktunya pulang. Dan akhirnya bel pulang pun berbunyi. Gue pulang dengan Tonang. Kami berpisah di gerbang sekolah. Dia tunggu jemputan, sedangkan gue masuk ke salah angkot yang berjejer rapi ditepi jalanan.
Beberapa hari telah berlalu. Sekarang hari senin. Tepat setelah upacara bendera, gue ke kantin dengan Tonang buat beli bakwan again. Makanan tradisional yang murah meriah dan mengenyangkan. Ketika gue mau keluar kantin, gue ketabrak dengan Raffa. Buru-buru gue pergi dari kantin dan kami segera masuk ke kelas. Kegiatan belajar-mengajarpun selesai dan tepat pukul 15.15 waktu Indonesia bagian kelas gue, kamipun pulang sekolah. Setibanya dirumah, gue segera mandi dan sholat ashar.
Karena capek, gue menghempaskan badan gue diatas kasur. Fikiran gue melayang-layang gak karuan. Gue senyam-senyum sendirian. Entah kenapa, gue selalu kefikiran dengan Raffa, cowok usil yang tinggi dan berkulit sawo matang itu. Emang sih dia masih adek kelas gue. Dia kelas delapan *tiiiiiiittttt*. Maaf, gue sensor kelasnya, takut dicari sama KPK*eh? , tapi entah kenapa, perasaan gue gak karuan sama dia. Sulit buat diucapkan dengan kata-kata. Ah! Gue gak boleh kayak gini. Gue gak boleh mikirin dia. Gak boleh!
Besok paginya, hari selasa. Hari ini pelajaran pertama yaitu olahraga. Para manusia kelas 91 pun mengganti pakaian putih-biru mereka dengan baju kuning-hijau olahraga. Setelah berganti pakaian, masing-masing para manusia 91 pun memilih olaraga mereka. Ada yang memilih basket,volley dan futsal. Gue sendiri so pasti memilih basketlah. Ketika gue lihat ke lapangan basket, ternyata anak kelas 8 *tit* olahraga hari ini juga dan jam ini juga. Tiba-tiba gue keingat sama Raffa. Astaga! Bakal menjadi hari olahraga gua yang suram. Yasudahlah. Gue gak peduli.  
Gue berlari kearah lapangan basket dengan diikuti Tonang dan Farah. Farah ini twins kesayangan gue♥♥. Kami mempunyai tanggal,bulan,dan tahun lahir yang sama. Bisa dibilang kembar tapi beda bokap-nyokaplah. Gue lahir jam 6 pagi, sedangkan Farah, lahir jam 12 siang. Beda 6 jam. Jadi otomatis, gue masih kakaknya Farah. Kakak 6 jam maksudnya (^▽^) .
Gue main basket sendirian. Sedangkan Tonang dan Farah gabung main dengan manusia-manusia yang lain. Bukannya gue gak mau gabung, tapi gue tau kalo skill gua di basket ini rendah banget. Nge-shoot bola aja gue masih remedy-_-. Jadi alhasil gue main sendirian, setidaknya gue bisa belajar nge-shoot dan dribble bola dengan bebas tanpa ada yang menganggu. Tiba-tiba Raffa datang senyam-senyum gak jelas kearah gue dan segera merebut bola basket yang berada ditangan gue. Astaga! Cobaan apalagi ini YaAllah. Tidakka daku bisa bermain dengan tenang tanpa ada troublemaker ini! Arg!
“kalo lu mau bola ini, ambil aja.” Ucapnya cengengesan gak jelas.
Gue cobak untuk merebut bola dia. Tapi selalu gagal. Gua coba lagi, dan gagal juga. Dan sekali lagi gue mencoba , hasilnya sama. Gagal! Shit! Gue menggeram dan mengepalkan tangan. Gue coba buat kerlingkan mata gue kedia. Ya, gue rasa percuma aja gue kerlingkan mata kedia, toh mata gue aja udah sipit, dikerlingin tambah ilang dah mata gue.
“oke, gue nyerah. Gue tau lu punya skill selangit tentang permainan basket ini, hmm, lu mau gak ngajarin gue main basket?” ucap gue dengan nada yang gak ikhlas. Gak ada niat mau muji dia sih, tapi ya gimana lagi, emang begitu kok kenyataannya.
“okey, nih ambil bolanya.” Ucapnya sambil melempar bola basket kearah gue.
Gue cobak buat nge-shoot bolanya, tapi gak pernah bisa, selalu aja dihalang sama dia. Lama-lama gue jadi bete liat dia.
“gimana gue mau nge-shoot cobak, lu selalu aja halangin gue-_-“ timpal gue kesal.
“itu baru yang namanya ngajarin. Dimana-mana kalo permainan basket itu pasti ada lawannya, jadi anggap aja lu sekarang sedang tanding basket beneran dan gua lawan lu. Lu harus bisa masukin bola ke ring basket ini, kalo lu bisa itu baru yang namanya pintar ƪ(ˆ⌣ˆ)ʃ “
“ya ya ya ya. Bakal gue cobak ƪ(‾_‾)ʃ‎.”
Dengan penuh tekad dan keyakinan, gue cobak buat nge-shoot kembali bola ke ring basket yang ada didepan gue. Setelah , hmmm mungkin kurang lebih puluhan kali nge-shoot gak pernah masuk ke ring, selalu aja dihalangin sama dia, akhirnya untuk yang keseratus kalinya gue berhasil masukin bola ke ring basket itu. Yey! Vanilla berhasil. Yey yey yey!!!! ƪ(˘⌣˘)┐ ƪ(˘⌣˘)ʃ ┌(˘⌣˘)ʃ ƪ(˘⌣˘)┐
Tiba-tiba aja bola basket yang ada ditangan gue direbut sama Raffa. Spontan gue peluk bola basket itu, dan dia masih aja terus merebutnya dari tangan gue. Tiba-tiba dia tatap mata gue lekat-lekat. Gue jadi gelagapan. Gue cobak untuk menatap kembali mata dia. Tapi gue gak bisa, gue rasa muka gua memerah. Waktu seakan berhenti. Gue dan dia berasa seperti diruang dimensi yang berbeda. Dimensi yang penuh dengan abstrak cinta dan logika. Seperti berada dialam kedua. Alam yang didalamnya tidak terdapat gravitasi bumi. Gue seakan melayang-layang diatas awan. Melayang tanpa sayap dan benang.
Kali ini gue kembali menatap mata dia lekat-lekat. Gue baru menyadari ternyata ‘cowok usil’ ini manis banget. Taapi sayangnya, gak ada satupun semut yang mendekat dengannya. Kalau gitu, biar gue jadi semutnya aja deh*eh?. Senyumnya aja bisa melelehkan hati gue, apalagi cintanya. Tiba-tiba gue ingat sebuah judul lagu, ‘brownies : berondong manis’. Ah! Gue gak peduli mau dia berondong kek, apa  kek, pokoknya gua gak peduli. Gue jatuh cinta sama dia.
♯Mungkin inilah rasanya, cinta pada pandang pertama, senyuman manismu itu, buat aku dag-dig-dug melulu ♪♫
Gue tersadar dari lamunan gue yang berkepanjangan dan kembali ke dimensi sekarang. Gue jadi gugup buat main basket lagi sama dia. Gue jadi takut menatap mata dia lagi. Takut kalo rasa ini hanya tumbuh di hati gue aja, tetapi tidak dihatinya. Dari kejauhan terdengar teriakan Jihan, temen gue yang mungkin gue rasa ngeliat kami dari tadi.

“ditunggu PJ nya minggu depan woiiii.”
“apaan sih, cuman sekedar teman main doang kok.” Ucap gue berbohong. Sebenernya gue pengen rasa ini lebih dari sekedar teman. Gue berusaha menyembuyikan muka gue yang udah memerah. Gue memalingkan wajah dari Raffa, dan dikesempatan persekian detiknya gue sempat tersenyum tersipu-sipu. Tapi ketika dihadapannya kembali, gue kembali menyembunyikan rasa bahagia ini dan kembali memakai topeng ekspresi muka datar. Yap. Muka KTP. Tanpa senyum tanpa ada ekspresi apapun.
Ketika jam pelajaran olahraga usai, gue segera mengganti pakaian olahraga gue dengan baju putih-biru kembali. Gue ceritain kejadian tadi dengan Tonang, sahabat gue.
“kan bener apa kata gue. Benci+benci = cinta. Pokoknya gue tunggu PJ nya aja. Awas kalo gue gak dapat PJ nya.” Ucapnya sambil melangkah masuk kekelas setelah selesai mengganti pakaian olahraga.
“Amiiinn. Gue berharapnya dia ada rasa juga sama gue. Tapi, gue takutnya kalo dia gak ada rasa sama gueL.”
“lu harus yakin dong! Gak boleh kek gitu.”
“iyadeh:’) semoga aja ya, amiinn☻.”
Percakapan kami berhenti ketika guru B.Indonesia kami, Ibu Nolilita masuk kedalam kelas. Gue dan Tonangpun segera menyalami bu Noli dan segera duduk dibangku kami masing-masing. Oh ya, guru gue yang satu ini, selain manis, baik, gak pernah marah lagi. Tampangnya keibuan banget. Gue suka sama suara Ibu Noli ini, suaranya lembut, terus cara ngajarnya juga keren banget. Disela-sela pelajaran yang ia sampaikan, terdengar suara ketawa-ketiwi dari kami karena humor yang ia berikan. Humor ini mampu mengocok perut kami dan humor inilah yang membuat kami, para manusia 91 gak pernah bosan dan jenuh ketika belajar dengan Ibu Noli. Pokoknya jempol banget dah buat guru gue yang satu ini. Mungkin kalo bisa gue saranin, Ibu cobak aja cari kerjaan sampingan bu, jadi pelawak misalnya bu ( ¯ ▽¯) kan bisa dikit-dikit nambah pemasukanlahJ.”
Oh ya, gue sampai lupa, manusia yang duduk disebelah bangku gue namanya Syafira. Cewek gendut, item manis, suka ceplas-ceplos dan humoris ini juga termasuk sahabat gue. Gue pun cerita tentang kejadian tadi kedia. Gue minta bantuan kedia buat deketin gue ke Raffa. Ya, itung-itung pengilang jenuh, kali aja dia bisa jadi mak comblang beneran kan☻. Akhirnya dengan segala jurus yang telah ia keluarkan buat bantuin gue, ketika malam harinya, tepat jam 21.00 waktu Indonesia bagian Handphone gue, handphone gue bergetar. Sms masuk. Tumben-tumbenan ada orang yang sms gue. Biasanya kalo yang sms gue itu, selalu nanyain :

1.      Besok ada pr Van?
2.      Besok pake baju blablabla kan?
3.      Besok jadi ulangan gak?
4.      Lu ada dapat soal ulangan blablabla dari anak kelas lain gak?

Atau para manusia-manusia yang nge-share smsnya ke nomor gue:
1.      Gnite/malam all/#suntuk banget/#capek banget hari ini. Nah itu masih mending. Yang mirisnya sms gini nih : #happy satnite mbloo\=D/ jangan sedih eahh;;). nyesek brohh nyesekk! (∏ ω ∏)
2.      #pilih nomor berapa buat aku? 1. Jelek, 2.lumayan jelek, 3.jelek banget 4. Blablabla.
3.      Yang insom PING/yang satnite PING/yang mau karaoke PING/yang mati PING-_-. Kesel gua. Gue nyadar kok kalo handphone gue cuman bbs. Jadi gak bisa PING-PING-an gitu:’)
4.      Kata-kata galau : gue cinta sama lu, tapi kenapaa lu giniin gue? Setelah sekian lama kita bersama blablabla._______.
5.      Atau caci-makian, sumpah serapah seperti : sok yes kali gaya kau *@#^!$ ! / woii sadarlah kau! Tampang ancurnya pun! Yang lebih kasiannya lagi ini : woi PLN! Cepat idupin lampu ngapo. Aku dah bejamur digigit nyamuk ni ha! Padahal mati lampu ini kan bukan atas kesengajaan pak PLN. Yang sabar ya pak:’). Maklum kami masih labil pak:’D.
Dan yang terakhir :
1.      Ayo, buruan isi ulang pulsamu, untuk mendapatkan hadiah mobil, cek di *332423*
2.      Aktifkan RBT Syahrini usir cantik di hpmu, cukup ketik *blablabla# segera!
3.      Masa aktif kartu anda akan habis, segera lakukan pengisian ulang dan cek di *123# . yah beginilah nasib jones, jadi malas isi pulsa karna ga ada yang perhatiin:”). Nyesek yaahh(T^T)
Gue segera membuka kunci tombol handphone gue. Nomornya gak ada dikontak gue. Siapa sih ni manusia? 
Test | test back, siapa? | Raffa, ini Vanilla kan? | oh, Raffa mana? *pura-pura gatau* iya, gue Vanilla| Raffa yang tadi ngajarin lu main basket-_- | oh. Kenapa? | gak kenapa-napa | iyadehJ .
      Tiba-tiba sms Syafira masuk :
Woi Van, Raffa udah sms lu kan? | udah hihi:$ | baguslah, tadi gue suruh dia buat sms lu | haha iyadeh. Tengsyaww udah bantuin gue:* | okesip;;) .
      Keesokan harinya disekolah, gue jumpa dengan Raffa di kantin. Dia berdehem. Gue ngelirik kearah dia, dan dia senyum ke gue. Ya Allah, ini manusia senyumnya manis banget dah. Gue balas senyum kedia lagi dan begitulah setiap harinyaJ.
      Ketika malam itu dia sms gue:
Test | test back | lagi ngapain bous? | haha bous? Lagi duduk aja nih ajudan;;) | oh, iyadehJ | lagi ngapain ajudan? | lagi tiduran aja bous | oh iyadeh ajudan, gua tidur duluan yaa. Gnite ajudanO:) | gnite too cipit({}) .
      OMG HELLOW! Emotnya lagiiii. Bikin gue melting sumpah:$:$:$

Dia juga sering ingatin gue buat sholat :
3 rakaatnya bous cipit:D / 4 rakaatnya cipit;;) .
            Disekolah gue juga deket banget sama dia, sering becanda bareng, main basket bareng. Tapi entah kenapa udah 3 hari belakangan ini dia gak pernah lagi sms gue / balas sms gue lagi. Mungkin awalnya gue coba buat positive thingking. Gue taku dia cuman anggap gue teman biasa atau dia udah punya gebetan yang baru. No! Sebisa mungkin gue hilangin rasa kecurigaan gue kedia. Mungkin dia lagi gak ada pulsa / handphonenya ilang / ditahan dengan bokap-nyokapnya. Disekolahpun tiap ketemu gue dia selalu menghindar. Entah apa salah gue, guepun gak tau. Gue minta bantuan ke Syafira lagi. Semoga aja semua kecurigaan gue selama ini salah.
            Malam itu Syafira sms gue:
Van , udah, lebih baik lu lupain aja dia. Dia gak ada rasa sama lu| lu gak becanda kan? Gak lucu tauk! | sumpah serius! Kalo lu gak percaya lu liat aja chat bm gue kedia. Dia sekarang dekat sama adek kelas, namanya Tiara kelas 7 *tit*.
            Seketika itu juga fikiran gue berkecamuk. Otot syaraf gue yang mulanya tegang, mengharapkan apa yang dikatakan Syafira itu salah, dan semua kecurigaan gue selama ini juga salah, ternyata semuanya itu benar. Tiba-tiba saja terasa sesak didada gue. Tanpa gue sadari air mata gue menetes. Semua yang gue bayangin, semua yang gue impikan didalam angan-angan dimensi alam kedua gue, semuanya hancur. Rasanya seperti kiamat datang ketika hal ini harus terjadi. Sesak dada dan luka. Itulah yang kini gue alami. Bumi seperti berhenti berputar dan gue seperti tidak menginjak tanah, melainkan menginjak duri yang tajamnya mampu menusuk hati gue yang terdalam.
            Kini semua harapan gue musnah sudah. Diganti sembilu membalut luka. Gue coba untuk tegar ditengah badai asmara ini. Semoga dibalik kejadian ini gue bisa mengambil hikmahnya:’’). Gue akan coba buat moveon dan ngelupain dia walaupun gue gak mampu dan gak akan pernah mampu. Tapi gue yakin, semua badai ini akan terlewati seiring mengalirnya waktu.

            Malam ini gue berbaring diatas kasur sambil mendengarkan musik. Fikiran gue kembali melayang. Mengingat peristiwa silam. Gue ingat lagu yovie & nuno : mengejar mimpi.
Meskipun engkau telah pergi, mungkin takkan kembali, aku disini, tetap disini sayangku… aku masih rindu padamu, aku masih sayang padamu, meski kini cintamu bukan aku….♫♪♫
            Kini udah 2 minggu lewat gue gak pernah teguran ataupun komunikasi dengan dia. Entah kenapa kini rasa sayang gue malah berujung benci. Gue benci dengan dia yang sekarang. Benci! Pokoknya benci sebenci bencinyaL! Gue sendiri nyesal pernah sayang kedia. Kenapa gak dari awal dia bilang kalo dia gak ada rasa kegue? Kenapa mesti sekarang dia bilang itu? Kenapa dia mesti php-in gue? kalo dia gak ada rasa ke gue, kenapa dia sampai ngasih emot bighug kayak gitu? Kenapaa? Gue udah terlanjur sayang kedia, tapi dia malah nyakitin perasaan gue (●̮̮__●̮̮). Ingat woi! Gue ini manusia. Gue punya hati dan perasaan juga. Gue bukan mainan yang seenak idup lu aja. Kapan lu bosan lu mainin gue, kalo udah ada yang baru lu buang gue!
            Gue kini gak tau harus gimana lagi. Cukup tau gue pahit-manisnya yang namanya cinta itu. Tapi gue bangga kok sama hati gue:’) walaupun udah disakitin berjuta-juta kali, hati ini masih mampu buat bertahan hidup bersama denyut jantung, aliran darah dan nyawa yang masih ada didalam diri gue sampai sekarang.
            Sekarang, gue ambil hikmahnya aja. Percuma ditangisin. Air mata gue terbuang percuma dan ini gak akan membalikkan waktu dan merubah jalan takdir cinta gue. Gue yakin kalau Allah SWT punya rencana yang lebih baik dan lebih indah buat gue, tapi gue juga percaya dengan kata-kata sang pujangga cinta kalau ‘hidup tanpa cinta bagai taman tak berbunga’ tanpa cinta, dunia sekan gelap gulita tanpa sang surya. Tetapi cinta juga bisa membuat kita lupa akan kodrat kita sebagai manusia.
Cukuplah semua yang terjadi ini menjadi pelajaran berharga buat gue dan kalian semua untuk hari ini, esok dan selamanyaJ. Sekarang, gue akan lebih memfokuskan diri untuk belajar dan berjuang menggapai cita-cita gue setinggi bintang, cuman 1 keinginan gue : kelak dewasa gue akan membahagiakan kedua orangtua gue dan semua yang berada disekitar gueJ. Ya Allah, terus bantu gue buat bisa menjalani kehidupan keras dunia ini, karena tanpa-Mu gue hanya bagai butiran debu yang bertebaran diterpa angin dan tak tau kemana arah tujuan hidup ini.
Gue Vanilla Adqueela kecil dan tetap selamanya akan menjadi Vanilla Adqueela kecil yang masih dan selalu merindukan cinta.J

2 komentar: